At-Tahiyyah: Merajut Tradisi, Menjemput Inovasi untuk Pemimpin Masa Depan
Dalam dunia pendidikan Islam, kita mengenal kaidah ushul fiqh yang sangat masyhur:
“Al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah.”
(Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik)
Kaidah ini bukan sekadar slogan di Pondok Pesantren At-Tahiyyah, melainkan ruh yang menggerakkan setiap kebijakan pendidikan kami. Di tengah gempuran arus modernitas, kami percaya bahwa pesantren tidak perlu membuang jati dirinya untuk menjadi maju. Sebaliknya, kekuatan pesantren justru terletak pada kemampuannya mengawinkan nilai-nilai klasik dengan tuntutan zaman.
1. Memelihara yang Baik: Warisan Kitab Kuning dan Akhlak
Tradisi lama yang “shalih” (baik) adalah pondasi. Kajian Kitab Kuning dengan metode sorogan dan bandongan tetap menjadi menu utama. Mengapa? Karena di sinilah santri belajar ketelitian, sanad ilmu yang jelas, dan adab sebelum ilmu.
Melalui pengkajian kitab-kitab Turats di bidang Fiqih, Nahwu, hingga Tasawuf, santri dibekali integritas moral yang kokoh. Ini adalah “akar” yang memastikan bahwa setinggi apa pun mereka terbang nantinya, mereka tidak akan lupa pada prinsip-prinsip ketauhidan dan kemanusiaan.
2. Mengambil yang Lebih Baik: Transformasi Digital dan Kepemimpinan
Transformasi menjadi lembaga yang “ashlah” (lebih baik) berarti berani membuka diri terhadap teknologi. Santri masa depan tidak boleh gagap teknologi (gaptek).
Di At-Tahiyyah, kami mengintegrasikan:
- Literasi Teknologi & Multimedia: Sebagai sarana dakwah yang lebih luas dan efektif.
- Sistem Manajemen Digital: Seperti penggunaan Dashboard Akademik & Tahfizh untuk transparansi progres santri.
- Soft Skills Kepemimpinan: Melatih santri menjadi problem solver yang mampu mengelola organisasi dengan standar manajemen modern.
3. Mencetak Profil Santri “Dua Sayap”
Tujuan akhir dari penerapan prinsip ini adalah melahirkan santri yang memiliki dua sayap seimbang:
- Sayap Spiritual: Fasih membaca Al-Qur’an secara tartil, hafidz, dan mendalami hukum-hukum agama secara mumpuni.
- Sayap Profesional: Mampu bersaing di dunia kerja, menguasai IT, dan memiliki kecakapan komunikasi yang global.
Inilah sosok pemimpin masa depan yang kita dambakan—seorang ahli agama yang tidak canggung berdiskusi tentang ekonomi digital, dan seorang profesional yang selalu menjaga shalat lima waktu serta integritas moralnya di mana pun ia berada.
Penutup: Masa Depan Itu Bernama Santri
Pesantren At-Tahiyyah di Tangerang hadir untuk membuktikan bahwa menjadi religius tidak berarti tertinggal, dan menjadi modern tidak berarti kehilangan iman. Dengan memegang teguh warisan ulama terdahulu dan menguasai perangkat masa depan, santri kita akan menjadi mercusuar bagi umat.

